Monday, July 11, 2011

The Journeys : Kisah Perjalanan Para Pencerita


Sepulang dari perjalanan lazimnya membawa apa untuk oleh-oleh? Buah tangan? Foto? Setelah baca buku ini, jawabannya bertambah satu. Kisah perjalanan. Bukan sekedar cerita keindahan tempat wisata yang dikunjungi (yang foto-fotonya bisa di-googling), karena buku ini justru tidak bercerita tentang itu.

Berkunjung ke Boston USA, pikiran yang muncul adalah "wih keren ya bisa ke Amerika". Coba ditambah variabel "berdua bersama mertua", kagok ngga sih? Di buku ini Ferdiriva Hamzah punya ceritanya.



Mengunjungi Israel. Heh? Negara perang kok dikunjungi. Bisa-bisa kena bom atau tembakan peluru nyasar. Tulisan Ve Handojo berjudul "Melipir ke Tel Aviv" justru menceritakan kisah berbeda. Dan bagaimana cara bisa sampai di sana dari Indonesia yang tidak punya hubungan diplomatik juga diceritakan di sini.

Afrika benua hitam, itu yang saya pahami sejak dulu. Tulisan Adhitya Mulya tentang "Afrika Berwarna" menceritakan hal yang berbeda. Ternyata di Afrika bagian utara justru banyak yang berkulit putih dan berhidung mancung. Trenyuh membaca kisah Goree Island yang menjadi pusat jual beli budak abad 15-19. Di rumah-rumah penjual budak yang lokasinya di pinggir laut terdapat pintu-pintu yang langsung ke laut yang fungsinya untuk keluar masuk budak yang dijual/dibeli. Pintu ini diberi nama 'the door where noone ever comes back'.

Traveling gratis, siapa yang ngga mau. Tapi gratis bukan berarti semau gue. Karena pihak yang membiayai pastinya menginginkan suatu hasil dari memberangkatkan kita jalan-jalan gratis. "There's no such thing as a free lunch". Trinity, penulis buku best seller The Naked Traveler, membagi ceritanya tentang "The Truth Behind Free Traveling".

Ada juga cerita Okke Sepatumerah tentang pantai di Nusa Tenggara Timur, yang membuat saya kangen Lombok. Eh, lombok kan di NTB yak? Hihi... gapapa lah, karna selama di Lombok saya kebanyakan di daerah selatan yang mirip2 dengan pantai yang diceritakan Okke.

Masih banyak pengalaman unik yang dibagi penulisnya dalam buku ini, total ada 12 tulisan. Mengobati kerinduan saya yang 2 tahun belakangan ga pernah bepergian lebih jauh dari Surabaya.

No comments:

Post a Comment