Thursday, August 16, 2012

Tentang Ibu dan Pengorbanan


I always against the term 'pengorbanan seorang ibu'. Kesannya kayak yang si ibu jadi korban karena harus mengasuh anak.

Saya selalu berusaha menyingkirkan pikiran bahwa saya mengorbankan hal-hal lain (yang saya sukai) demi mengasuh Mira. Karena itu yang bikin pikiran ngga happy.

Happy mother will make a happy child. It's true, seriously.

Pernah beberapa waktu lalu saya nyaris ngga sempat melakukan hal-hal yang saya sukai, seperti baca buku, nulis, atau main game di komputer. Kantor sedang sibuk sekali, nyampe rumah capek, begitu Mira bobok saya langsung ikut tepar. Biasanya saya sempatkan untuk 'me time' sebelum tidur.

Hasilnya?



Saya jadi ngga sabaran, dan Mira jadi sering tantrum.

Setelah semua back to normal, load kerjaan di kantor masih dalam taraf wajar, saya kembali punya waktu menyenangkan diri sendiri sebelum tidur.

Dan saya pun jadi lebih sabar menghadapi Mira, dan hasilnya juga Mira jadi jarang tantrum. Kalopun dia mulai emosi saat main dengan saya, saya bisa menghadapinya dengan stock sabar lebih banyak.

Kalo ada yang bilang demi anak kita harus mengorbankan kesenangan diri sendiri, saya yang pertama bilang ngga setuju. Ya mungkin saya yang egois. Tapi saya prefer kalo saya suka dan enjoy dengan apa yang saya kerjakan. Bukan karena 'terpaksa' atau 'pengorbanan'.

Karir ngga maju2 di kantor? Saya memang memilih melewatkan semua peluang promosi, karena belum siap dengan konsekuensinya. Harus pindah ke cabang di luar kota, belum lagi ngga betah lama-lama ngga ketemu Mira.

Yah, kalo kerjaannya sih ya gitu2 aja, kerjaan orang bank, sometimes makes you boring to the max. Meski pas hari gajian sih saya jadi sregep ke kantor. :D

Tapi saya ngga pernah ketemu macet. Ke kantor hanya naik motor 5 menit. Bisa pulang makan siang di rumah.

Well, setiap orang berhak memilih hidup seperti apa yang ingin dijalani. Kalopun pilihannya terbatas, ya nikmati apa yang terbatas itu. Hidup cuman sekali, jangan dibuat ruwet.

No comments:

Post a Comment