Sunday, November 4, 2012

Bapak Ibu Guru, Mari Mengajar dan Mendidik


Beberapa waktu yang lalu saya dan suami memutuskan untuk memasukkan Mira ke PAUD. Tujuannya bukan untuk mendorong Mira belajar lebih dini, tapi supaya dia belajar bersosialisasi dengan teman seumuran. Karena di sekitar rumah jarang ada teman bermain yang sepantaran. Selain itu juga untuk melatih dia mandiri.

Mira masuk sekolah sejak awal Juli, dan sekarang di akhir bulan Oktober (4 bulan berjalan) dia kelihatan sangat betah bersekolah. Kosakatanya bertambah banyak, hafal lagu kanak-kanak dan ini yang bikin saya takjub, dia sudah hafal surat Al Fatihah dan beberapa doa harian. Padahal PAUD Permata Hati ini ngga berbasis agama karena dikelola Dharma Wanita kabupaten tempat saya tinggal. Tetapi karena seluruh anak didiknya beragama Islam, akhirnya hafalan surat pendek dan doa harian termasuk aktivitas yang diajarkan di sekolah.

Bangga? Ya, saya akui ada rasa bangga melihat kemajuan Mira. Tapi terbersit juga rasa khawatir kalau-kalau Mira belajar terlalu banyak di usia yang masih sangat muda.

Terus terang saya tidak ingin Mira terlalu fokus pada pelajaran akademis seperti saya dulu.

Kenapa?

Ini cerita saya.


Saya lahir dan besar di sebuah kabupaten di pojok Jawa Timur. Bersekolah di TK Dharma Wanita, SD Negeri Inpres, SMP dan SMA Negeri kabupaten, dan kemudian melanjutkan kuliah di UGM Jogja. Nampaknya tidak ada yang salah dari pendidikan yang saya jalani ya.

Belum tepatnya. Sampai akhirnya saya lulus kuliah dan nyemplung ke dunia kerja.

Setelah masuk dunia kerja saya baru menyadari kalo ada 1 skill penting yang justru tidak saya pelajari dalam beberapa tahap pendidikan yang saya tempuh, yaitu bagaimana berorganisasi dan bekerja sama, termasuk networking.

Saya terlalu fokus pada bidang akademis sehingga saya tidak banyak membangun jaringan pertemanan. Well, tujuan sekolah kan seharusnya sukses secara akademis bukan? Ternyata saya keliru.

Jangan salah, saya bukan orang yang egois dan suka menyendiri. I do make friends. Saya punya teman baik di SD, SMP, SMA hingga kuliah, dan masih berhubungan baik sampai sekarang.

Karena kebetulan dikaruniai otak yang lumayan encer, saya mudah menyerap pelajaran yang saya terima di bangku sekolah. Tugas dan PR bisa saya kerjakan sendiri. Justru saya sering membantu teman, termasuk membantu memberi contekan. :p

Akibatnya, jarang sekali saya harus belajar bersama teman karena ada pelajaran yang tidak saya mengerti. Ketika ada tugas kelompok, bisa ditebak, saya mengerjakan hampir seluruhnya. Sementara anggota kelompok yang lain tinggal mengikuti hasil pekerjaan saya.

Tidak bagus bukan?

Saya tidak belajar berbagi tugas dan bekerja sama. Ini saya jalani sampai saya lulus kuliah. Saya ikut organisasi ekstrakurikuler, tapi tidak pernah nyemplung terlalu dalam. Karena saya lihat beberapa dari mereka yang terlalu aktif justru kuliahnya sering molor, atau keteteran sekolahnya. Saya tidak melihat manfaat dari aktif pada kegiatan di luar akademis.

Di sini saya keliru lagi. Dan sampai di titik ini saya sempat protes dalam hati, "Kenapa ngga ada yang ngajarin saya tentang ini sih?"

Orangtua? Mereka menekankan bahwa saya harus sekolah dengan baik, supaya mudah mendapat pekerjaan. Titik.

Guru? (Tanpa mengurangi rasa hormat kepada bapak/ibu guru yang telah memberi kesempatan saya menjadi muridnya) Mereka hanya mengajari saya pelajaran akademis. Iya, hanya mengajar. Bukan mendidik dan membekali saya dengan skill dan kemampuan untuk survive di dunia kerja.

Padahal saya belajar dari TK sampai kuliah untuk bekal di dunia kerja nyata bukan?

Lagipula kalo dipikir2, tidak semua pelajaran di bangku sekolah itu saya manfaatkan ketika terjun ke kehidupan sebenarnya. Justru yang penting seperti belajar bekerja sama malah saya lewatkan.

Menurut saya, justru yang terpenting adalah cara dan proses belajarnya, bukan hasil akhir pelajaran.

Contohnya begini.

Anita kurang menguasai pelajaran Matematika. Anita perlu belajar ekstra untuk minimal mencapai nilai standard, let's say nilai 7. Ngga usah muluk-muluk harus 8 atau 9.

Cara apa yang ditempuh Anita untuk mendapat nilai 7? Tinggal pilih.

  1. Nyontek saat ulangan
  2. Ikut les tambahan
  3. Belajar bersama teman
Ibu Rina, sang guru Matematika, paham bahwa ada muridnya yang sangat menguasai Matematika (let's say Tuti) dan ada yang tidak (misalnya Anita). Beliau mengajar tidak hanya satu arah, tapi mengajak seluruh kelas untuk ikut berdiskusi tentang topik yang dibahas. Beliau membuat tugas kelompok dengan metode tertentu yang mengharuskan seluruh anggota kelompok berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan tugas.

Prosesnya? Anita satu kelompok dengan Tuti yang ditunjuk menjadi ketua. Dia belajar bekerjasama menyelesaikan tugas dengan anggota lain. Tuti belajar untuk tidak egois dan mengajari teman satu kelompoknya. Tuti mendapat skill tambahan yaitu bagaimana memimpin suatu kelompok untuk menyelesaikan tugas.

Hasilnya? 

Anita mendapat nilai 7 untuk Matematika dan Tuti mendapat nilai 9. Apakah Anita lebih bodoh dari Tuti? Tidak. Karena Anita mendapat 9 untuk Bahasa Indonesia. Setiap anak punya kelebihan masing-masing bukan?

Dan Bu Rini berhasil dalam tugasnya mengajar dan mendidik Anita dan Tuti.


Saya pernah baca bahwa tugas membentuk karakter anak berikut mengajarkan life skills sesungguhnya adalah tugas orangtua.

Iya, saya paham, itu memang tugas utama orangtua. Tetapi alangkah baiknya kalo tugas ini dipikul bersama-sama dengan guru di sekolah. Bagaimana jika guru tidak hanya dibebani target akademis, tetapi juga tugas untuk mengenali dan mengembangkan potensi anak didiknya berikut membekali dengan life skills yang mumpuni.

Mungkin jika siswa tidak terlalu dituntut secara akademis dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi lain yang dia punya, dia akan sibuk sendiri dengan kegiatannya hingga ngga punya waktu untuk tawuran.

Karena kalo dibandingkan antara zaman saya bersekolah dulu dengan sekarang (saya tidak punya data, hanya berdasar pengamatan pribadi), jauh lebih banyak kasus tawuran pelajar pada beberapa tahun terakhir. Dan setahu saya, beban pelajaran siswa zaman sekarang juga jauh lebih berat daripada zaman saya dulu.

Saya senang sekali mengetahui adanya Gerakan Indonesia Berkibar yang berkomitmen untuk menyokong program pendidikan pemerintah. Salah satu programnya yang bagus adalah peningkatan profesionalisme guru.

Harapan saya, para guru pendidikan dasar yang mengajar di sekolah-sekolah negeri di Indonesia bisa mendapatkan manfaat program ini. Sehingga masyarakat yang hanya mampu untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri (seperti saya) bisa mendapat manfaat yang tidak kalah dari para guru di sekolah swasta bagus (tetapi mahal).

Sehingga ketika kelak Mira lulus kuliah dan terjun ke dunia kerja nyata dia akan berpikir, "Ah, untung dulu guruku mengajarkan ini."

gambar dari sini

No comments:

Post a Comment