Thursday, May 26, 2011

Melek finansial

Tadi sempat ngobrol sekilas dengan rekan kantor yang baru ambil kredit. Kredit ini selain untuk memenuhi kebutuhannya untuk renovasi rumah, juga dipake untuk melunasi salah satu KTA (kredit tanpa agunan). Selain itu dia bilang kreditnya di koperasi bulan depan akan lunas setelah 5 tahun. Sempat mengeluh juga kalo selama ini keuangan dia pake sistim gali lubang tutup lubang. Obrolan kami ga berlanjut panjang, karna saya harus kembali menggarap tumpukan advis yang pending selama saya tinggal cuti seminggu.

Dari sekilas curcol teman saya ini (yang kebetulan masa kerjanya juauh lebih lama dari saya) saya jadi mikir, bahwa kerja di bank itu ga otomatis membuat seseorang melek finansial. Memang bisnisnya adalah jasa keuangan, tapi BUKAN jasa perencanaan keuangan. Sehingga seorang pegawai bank ga otomatis pinter mengelola keuangan pribadinya.

Keuangan pribadi (+keluarga) saya baru mulai agak rapi sejak punya anak. Memang saya dan suami bukan tipe yang boros, kami sama2 rajin menabung dan ga suka pake kartu kredit. Kalopun saya pake kartu kredit, saya selalu memastikan tagihannya bisa terbayar lunas pas gajian. Pas cuti melahirkan saya jadi punya waktu untuk browsing agak lama, hingga saya terdampar di twitterland. Buka akun twitter kemudian follow akun para Financial Planner Indonesia, @mrshananto dan @AidilAkbar. Dari mereka inilah saya jadi belajar sedikit2 tentang menata keuangan keluarga, pentingnya menyiapkan dana darurat, bagaimana merencanakan dana pensiun dan pendidikan anak, dan sadar pentingnya asuransi untuk keluarga.

Saya langsung cek polis asuransi jiwa suami, yang ternyata asuransi jenis unit link dengan uang pertanggungan (UP) yang sangat tidak mencukupi. Setelah diskusi panjang, akhirnya asuransi ini ditutup dan suami membuka asuransi jiwa term life dengan jumlah UP kita sesuaikan dengan kebutuhan keluarga. Kemudian kami mulai berinvestasi di reksadana untuk persiapan pensiun dan pendidikan anak. Dana darurat? Setelah dihitung-hitung ternyata dana yang ada di salah satu rekening sudah cukup untuk menjadi dana darurat keluarga kami. Menurut financial planner untuk keluarga dengan 1 anak maka harus disediakan dana 6-12 kali pengeluaran bulanan stand by di tabungan.

Pas awal investasi di reksadana sempat salah beli juga sih. Kinerja RD saham yang saya beli ternyata memble dibandingkan RD saham yang lain. Setelah menunggu NAB-nya naik sedikit (supaya ga tekor modal) sekitar 2-3 bulan akhirnya RD ini saya redeem. Kita beli RD dengan kinerja bagus setelah baca Tabloid Kontan edisi khusus Memburu Reksadana Jagoan. Sekarang sudah bisa senyum-senyum melihat kinerja RD yang kita punya.

Selain banyak browsing dan menyimak sharing para FP di twitter, saya juga baca buku karya Ligwina Hananto, "Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk Tidak Miskin". Di buku ini saya bisa belajar banyak untuk melek finansial dan mulai menata keuangan keluarga. Suami sih menyerahkan sepenuhnya pengelolaan keuangan keluarga kecil kami. Tapi saya selalu mendiskusikan segala sesuatunya dengan suami, karna bagaimanapun itu kan uang dia :). Dan karna saya juga kerja, dan tau gimana susahnya membanting tulang peras keringat demi sesuap nasi (dan segenggam berlian :D), saya ga berniat untuk menyelewengkan amanah dari suami untuk mengelola hasil jerih payahnya. Saya bayangkan sendiri aja misal saya udah capek-capek kerja dari jam 8 sampe 5 sore, trus ternyata hasil jerih payah itu ga bisa dinikmati, wuah... rasanya pasti pingin gigit batu. :)

6 comments:

  1. "karena hidup seperti sekotak coklat" => ini kutipan dari Forest Gump bukan ya? :)
    Untuk melek finansial, saya pikir semua orang harus mengetahui triknya. Untuk saya sendiri, kinerja reksadana sungguh tidak bisa diprediksi. Saat ini, saya lebih menyukai investasi emas, emas batangan atau koin. Dalam 2 tahun saya bisa tersenyum lebar soalnya :D

    ReplyDelete
  2. yup, dari Forrest Gump, salah satu film favorit saya.
    untuk invest saat ini saya lagi nyoba keduanya, reksadana dan emas LM. emas LM memang lebih low risk daripada reksadana saham. :)

    ReplyDelete
  3. salam kenal mba linda..
    dari urban mama nyasar di mari
    setelah baca2 blognya kayaknya profesi mba linda sounds familiar with me
    kalo boleh nebak, mba analis di bank kapal layar yah??? heheheh
    saya juga...tapi duluu :)

    ReplyDelete
  4. hai mbak Amnah, trimakasih kunjungannya. Saya kebetulan kerja di bank (dulu) kapal layar, tapi bukan analisnya :). Udah alumni ya? Salam kenal mbak

    ReplyDelete
  5. salam kenal mba Linda..
    need advise nih soal cash flow management :) ternyata ngk cuma ibu rt or karyawan yg ngerti finansial...pnya usaha sendiri tambah bingung ngatur cashnya...hehe

    ReplyDelete
  6. mbak Susi, bisnisnya bagus lho, saya udah ngintip webnya. :) saya bukan pakar cashflow management, tapi dari yang saya baca, mengatur cashflow bisa diawali dengan memisahkan rekening pribadi dan bisnis. mencatat pembayaran yang ditransfer ke rekening, kemudian membuat list pengeluaran bulanan (misal: gaji karyawan, biaya operasional, dst), dan yang pasti mesti disiplin pembukuannya. demikian tips singkat :)

    ReplyDelete